Konfigurasi Kontekstual Ujaran Kontroversial Tampang Boyolali
Analisis Linguistik Forensik pada Pidato Prabowo Subiyanto
Keywords:
konfigurasi kontekstual, pragmatik, semantik, tampang BoyolaliAbstract
Penafsiran terhadap bahasa, baik itu berupa ujaran lisan ataupun tulisan, selalu beragam dan berbeda-beda; dan karenanya tak jarang distorsi, mispersepsi, dan misinterpretasi muncul di dalam ruang keberagaman tersebut. Salah satunya yang masih membekas dalam benak kita akhir-akhir ini adalah polemik yang terjadi di ruang publik karena ujaran kontroversial tampang Boyolali. Ujaran ini disampaikan oleh Prabowo di sela-sela narasi pidatonya yang ia sampaikan di atas mimbar kampanye politik di Kota Boyolali. Melalui dua pendekatan sekaligus, yakni pendekatan semantik dan pragmatik dalam bentuk konfigurasi kontekstual, penelitian ini bertujuan menelisik: 1) makna semantis dan pragmatis dari ujaran tampang Boyolali yang disampaikan dalam pidato; 2) fungsi konfigurasi kontekstual ujaran tersebut; dan 3) mendudukkan fungsi tersebut terhadap pasal delik aduan yang dijeratkan. Hasil temuan menunjukkan bahwa 1) ujaran kontroversial tampang Boyolali tidak dimaksudkan untuk merendahkan atau menghinakan kehormatan penduduk Boyolali pada umumnya; 2) ujaran tersebut dimaksudkan sebagai sarana humor (jokes) untuk menciptakan ruang interaksi antara Prabowo dan seluruh audiensi; dan 3) UU No. 19 Tahun 2016 tentang ITE tidak memenuhi syarat untuk menjerat ujaran kontroversial tersebut. Meski demikian, sebagai seorang tokoh politik, figur masyarakat, sekaligus orator yang handal, Prabowo seharusnya mampu menangkap konsekuensi-konsekuensi yang akan muncul ketika menggunakan diksi-diksi yang mudah sekali diasosiasikan dengan SARA, sehingga bisa lebih berhati-hati dalam menggunakan diksi atau register di setiap narasi pidatonya.
Downloads
References
Barthes, R. (1967). The Death of the Author. In Image, Music, and Text. Fontana Press.
Budiawan, R., & Mualafina, R. F. (2016). Kajian Linguistik Forensik: Kontroversi Tuturan Artis Zaskia Gotik dalam Kasus Penghinaan Lambang Negara. Seminar Internasional Isu-Isu Mutakhir Dalam Kajian Bahasa Dan Sastra. 21-22 September 2016.
Coulthard, M., Johnson, A., & Wright, D. (2017). An Introduction to Forensic Linguistics: Language in Evidence. Routledge.
Griffin, E. A., & McClish, G. A. (2000). A first look at communication theory. McGraw-Hill.
Halid, R. (2022). Tindak Tutur Pelaku Pencemaran Nama Baik di Media Sosial: Kajian Linguistik Forensik. Kredo: Jurnal Ilmiah Bahasa Dan Sastra, 5(2), 441–458.
Halliday, M. A. K., & Hasan, R. (1989). Language, context, and text: Aspects of language in a social-semiotic perspective. Oxford University Press.
Kramsch, C., & Widdowson, H. G. (1998). Language and culture. Oxford University Press.
Léon, J. (2007). From Linguistic Events and Restricted Languages to Registers. Firthian Legacy and Corpus Linguistics. The Henry Sweet Society Bulletin, 49, 5–26.
Luhukay, M. S. (2007). Presiden SBY dan politik pencitraan: Analisis teks pidato Presiden SBY dengan pendekatan retorika Aristoteles. Jurnal Ilmiah Scriptura, 1(2), 51–70.
McMenamin, G. R., & Choi, D. (2002). Forensic Linguistics Advances in Forensic Stylistics. CRC Press.
Mintowati. (2016). Pencemaran Nama Baik: Kajian Linguistik Forensik. Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa, Sastra, Dan Pembelajarannya, 3(2), 197–208.
Murthy, D. M. L., & Ghosal, M. (2014). A Study on Aristotle’s Rhetoric. Research Journal of English Language and Literature, 2(4), 249–255.
Olsson, J., & Luchjenbroers, J. (2014). Forensic linguistics. Bloomsbury.
Paltridge, B. (2012). Discourse Analysis: An Introduction (2nd ed.). Bloomsbury.
Rahman, N. I. Z. (2019). Penggunaan Kata Tabu di Media Sosial: Kajian Linguistik Forensik. Semiotika, 20(2), 120–128.
Searle, J. R. (1979). Expression and meaning: Studies in the theory of speech acts. Cambridge University Press.
Sugono, D., Sugiyono, Maryani, Y., Qodratillah, M. T., Sitanggang, C., Hardaniwati, M., Amalia, D., Santoso, T., Budiwiyanto, A., Darnis, A. D., & Puspita, D. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Suhandano. (2017). Linguistik Forensik Kesaksian Ilmu Bahasa dalam Sidang Pengadilan. Seminar Nasional Bahasa, Sastra, Dan Budaya, 1(1), 20–29.
van Dijk, T. A., & Kintsch, W. (1983). Strategies of discourse comprehension. Academic Press.
Wisudariani, N. M. R. (2014). Retorika Kampanye Joko Widodo dalam Pilpres 9 Juli 2014 (Sebuah Kajian Aksiologi Filsafat Bahasa). Prasi: Jurnal Bahasa, Seni, Dan Pengajarannya, 9(18), 45–51.
Wood, S. (2009). Deridda’s writing and difference: A reader’s guide. Continuum International Publishing Group Ltd.
Yule, G. (2020). The Study of Language (7th ed.). Cambridge University Press.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2022 Ardik Ardianto

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
License and Copyright Agreement
- Authors retain copyright and other proprietary rights related to the article.
- Authors retain the right and are permitted to use the substance of the article in their own future works, including lectures and books.
- Authors grant the journal the right of first publication with the work simultaneously licensed under Creative Commons Attribution License (CC BY 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post or self-archive their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.
