Menyemai Nilai-Nilai Pekerti dalam Ungkapan Bugis “Macca Na Malempu’, Warani Na Magetteng” Pada Masyarakat Bugis Luwu di Palopo

Authors

  • Sunarni Yassa (1) Universitas Cokroaminoto Palopo
  • Daniel Parubang (2) Universitas Cokroaminoto Palopo
  • Wahyu Hidayat (3) Universitas Cokroaminoto Palopo

Keywords:

macca, malempu', warani, getteng

Abstract

Nilai fenomenologis berhubungan dengan tindakan manusia, yang umumnya terbagi menjadi dua kategori, yaitu perbuatan baik dan perbuatan buruk. Saat ini, istilah krisis nilai sering muncul dan kerap dikaitkan dengan penurunan nilai-nilai moral dalam kehidupan. Krisis nilai ini mencerminkan krisis kehidupan dalam arti etis dan moral yang mendalam dan nyata. Berdasarkan fenomena krisis nilai tersebut, penulis mencoba menggali nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam Lontara' Latoa sebagai sumber nilai dan pedoman hidup bagi masyarakat etnis Bugis-Makassar dalam kehidupan sosial. Dalam Latoa, makna ungkapan Bugis terungkap melalui frasa “Macca Na Malempu’, Warani Na Magetteng.” Lontara' seringkali mengaitkan nilai amaccang (kecerdasan) dengan lempu’ (kejujuran), karena keduanya saling melengkapi, seperti halnya warani (keberanian) dan getteng (ketegasan). Kecerdasan tanpa kejujuran tidaklah cukup, begitu pula keberanian yang tidak disertai ketegasan. Namun, esensi ungkapan ini meliputi: 1) sumber kecerdasan terletak pada kejujuran, sementara esensi kejujuran terletak pada keadilan; 2) kecerdasan dan kejujuran adalah aset yang dapat memuliakan, bahkan mengabadikan martabat manusia, baik secara individu maupun sebagai pemimpin. Namun, kecerdasan bisa menjadi hal yang merendahkan jika tidak dibarengi dengan kejujuran; 3) dalam konteks kenegaraan, kecerdasan dan kejujuran seorang pemimpin adalah syarat yang memengaruhi kejayaan dan kemakmuran suatu negara. Sebaliknya, tanpa pemimpin yang cerdas dan jujur, sebuah negara bisa terancam kehancuran; 4) dalam konteks pendidikan, kejujuran membutuhkan keteladanan, karena keteladanan memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi anak-anak; 5) keberanian adalah kemandirian moral dalam bertindak tanpa rasa takut, selama tidak bertentangan dengan hati nurani dan keadilan; 6) esensi kecerdasan terletak pada pekerti, bukan kecerdasan intelektual belaka.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Abdullah, H. (1985). Manusia Bugis Makassar. Jakarta: Inti Idayu Press.

Bakker, A., & Zubair, A. C. (1990). Metodologi penelitian filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Dewantara, A. W. (2017). Filsafat moral. Yogyakarta: Kanisius.

Djumransjah, M. (2006). Filsafat pendidikan. Malang: Bayumedia Publishing.

Mattulada. (1995). Latoa: Satu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang Bugis. Makassar: Hasanuddin University Press.

Mulyasa, H. E. (2014). Manajemen pendidikan karakter. Jakarta: Bumi Aksara.

Rahim, A. R. (1985). Nilai-nilai utama kebudayaan Bugis. Makassar: Hasanuddin University Press.

Published

2023-12-30

How to Cite

Yassa, S., Parubang, D., & Hidayat, W. (2023). Menyemai Nilai-Nilai Pekerti dalam Ungkapan Bugis “Macca Na Malempu’, Warani Na Magetteng” Pada Masyarakat Bugis Luwu di Palopo. Jurnal Sinestesia, 13(2), 1495–1507. Retrieved from https://sinestesia.pustaka.my.id/journal/article/view/259

Issue

Section

Articles