Menyemai Nilai-Nilai Pekerti dalam Ungkapan Bugis “Macca Na Malempu’, Warani Na Magetteng” Pada Masyarakat Bugis Luwu di Palopo
Keywords:
macca, malempu', warani, gettengAbstract
Nilai fenomenologis berhubungan dengan tindakan manusia, yang umumnya terbagi menjadi dua kategori, yaitu perbuatan baik dan perbuatan buruk. Saat ini, istilah krisis nilai sering muncul dan kerap dikaitkan dengan penurunan nilai-nilai moral dalam kehidupan. Krisis nilai ini mencerminkan krisis kehidupan dalam arti etis dan moral yang mendalam dan nyata. Berdasarkan fenomena krisis nilai tersebut, penulis mencoba menggali nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam Lontara' Latoa sebagai sumber nilai dan pedoman hidup bagi masyarakat etnis Bugis-Makassar dalam kehidupan sosial. Dalam Latoa, makna ungkapan Bugis terungkap melalui frasa “Macca Na Malempu’, Warani Na Magetteng.” Lontara' seringkali mengaitkan nilai amaccang (kecerdasan) dengan lempu’ (kejujuran), karena keduanya saling melengkapi, seperti halnya warani (keberanian) dan getteng (ketegasan). Kecerdasan tanpa kejujuran tidaklah cukup, begitu pula keberanian yang tidak disertai ketegasan. Namun, esensi ungkapan ini meliputi: 1) sumber kecerdasan terletak pada kejujuran, sementara esensi kejujuran terletak pada keadilan; 2) kecerdasan dan kejujuran adalah aset yang dapat memuliakan, bahkan mengabadikan martabat manusia, baik secara individu maupun sebagai pemimpin. Namun, kecerdasan bisa menjadi hal yang merendahkan jika tidak dibarengi dengan kejujuran; 3) dalam konteks kenegaraan, kecerdasan dan kejujuran seorang pemimpin adalah syarat yang memengaruhi kejayaan dan kemakmuran suatu negara. Sebaliknya, tanpa pemimpin yang cerdas dan jujur, sebuah negara bisa terancam kehancuran; 4) dalam konteks pendidikan, kejujuran membutuhkan keteladanan, karena keteladanan memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan pribadi anak-anak; 5) keberanian adalah kemandirian moral dalam bertindak tanpa rasa takut, selama tidak bertentangan dengan hati nurani dan keadilan; 6) esensi kecerdasan terletak pada pekerti, bukan kecerdasan intelektual belaka.
Downloads
References
Abdullah, H. (1985). Manusia Bugis Makassar. Jakarta: Inti Idayu Press.
Bakker, A., & Zubair, A. C. (1990). Metodologi penelitian filsafat. Yogyakarta: Kanisius.
Dewantara, A. W. (2017). Filsafat moral. Yogyakarta: Kanisius.
Djumransjah, M. (2006). Filsafat pendidikan. Malang: Bayumedia Publishing.
Mattulada. (1995). Latoa: Satu lukisan analitis terhadap antropologi politik orang Bugis. Makassar: Hasanuddin University Press.
Mulyasa, H. E. (2014). Manajemen pendidikan karakter. Jakarta: Bumi Aksara.
Rahim, A. R. (1985). Nilai-nilai utama kebudayaan Bugis. Makassar: Hasanuddin University Press.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2023 Sunarni Yassa, Daniel Parubang, Wahyu Hidayat

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.
License and Copyright Agreement
- Authors retain copyright and other proprietary rights related to the article.
- Authors retain the right and are permitted to use the substance of the article in their own future works, including lectures and books.
- Authors grant the journal the right of first publication with the work simultaneously licensed under Creative Commons Attribution License (CC BY 4.0) that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post or self-archive their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.
